Jumat, 30 Mei 2008

KISAH KERAJAAN GOWA

Dari mana Gowa berasal?
Negeri ini sudah ada sejak dahulu kala. Tidak ada yang tahu asal mula negeri ini secara pasti. Namun konon, Gowa awalnya dipimpin oleh empat bersaudara secara berturut-turut : Batara Guru I, Yang Dibunuh di Talah (nama asilnya tidak diketahui), Ratu Sapu (Marancai), dan Karaeng Katangka. Di bawah kepemimpinan raja-raja itu, rakyat Gowa sudah sejak lama hidup damai dengan alamnya dengan bertani, berkebun, dan berlayar.
Rakyat Gowa juga mendirikan negeri-negeri kecil yang masih berada dalam lingkup kekuasaan Kerajaan Gowa. Tiap-tiap negeri itu dipimpin oleh seorang penguasa, yang merupakan raja kecil. Negeri kecil itu berjumlah sembilan, yaitu : Tombolo, Lakiung, Saumata, Parang-parang, Data, Agang Jekne, Bisei, Kalling, dan Sero.

Sepeninggal Karaeng Katangka, Gowa mengalami kekosongan kepemimpinan. Maka raja dari sembilan negeri itu berkumpul dan membuat gabungan yang dipimpin oleh seorang Paccallayya, yaitu seorang pejabat yang mengetuai pemerintahan gabungan, dan sebagai ketua dewan, juga sebagai hakim tertinggi bila terjadi perselisihan.
Waktu terus berjalan beberapa lama, Gowa masih juga belum memiliki pemimpin. Di antara raja-raja kecil pun merasa enggan untuk mengangkat salah satu dari mereka untuk dijadikan raja. Hal itu ternyata membuat banyak terjadi perselisihan di antara raja dan negeri-negeri kecil. Gowa menjadi kacau, dan menjadi sasaran empuk serangan kaum Garassi, Untia, dan Lambengi. Kaum-kaum itu adalah kaum yang berada di luar wilayah Gowa.

Setelah perang berakhir, terdengar kabar yang menggemparkan seisi negeri bahwa di sebuah tempat bernama Takak Bassia ada seorang raja wanita yang turun dari Kayangan.
Paccallayya dan raja-raja pun segera pergi mendatangi tempat tersebut. Dan ternyata benar, di tempat yang di maksud mereka mendapati seorang wanita yang cantik parasnya dengan memakai sebuah dokoh yang indah. Mereka tidak mengenal nama asli perempuan tersebut. Dialah wanita yang turun dari kayangan bersama dokohnya, piring jawa, beserta istananya yang sebesar lima petak di dekat sebatang pohon mangga jombe-jombea.
Lalu berkatalah Paccallayya dan raja-raja kecil kepada perempuan Tumanurung (turun dari langit) itu,

“kami semua datang kemari untuk mengambil engkau menjadi raja kami”
Sang Tumanunrunga menjawab, “Engkau pertuan kami, masih menumbuk, masih mengambil air”.
Berkata lagi Paccallayya dan sembilan raja, “sedangkan istri kami tidak menumbuk, tidak mengambilair, apalagi Engkau yang kami pertuan”.
Lalu Tumanurunga bangkit, dan rela diangkat menjadi raja. Sejak saat itu Gowa memiliki seorang pemimpin baru, seorang raja yang turun dari langit.
Paccallayya dan Kasuwiang Salapanga (sembilan pengabdi, raja-raja kecil yang berubah jabatannya sejak naiknya Tumanurunga menjadi raja Gowa. Kadang juga disebut Bate Salapang atau Sembilan Pemegang Bendera) membangun sebuah istana yang besarnya sembilan petak di Takak Basia untuk Tumanurunga, kemudian istana itu dinamai Tammalate, yang artinya Tidak Layu. Dinamai demikian karena daun-daun darikayu yang dijadikan istana itu belum layu sewaktu istana selesai dibangun.

Tumanurunga begitu termasyhur akan kecantikan dan kebijaksanaannya. Kabar mengenainya terus tersebar ke luar wilayah Gowa. Maka datanglah raja-raja dari negeri lain untuk menyembah dan tunduk kepada Tumanurunga.
Namun lama setelah Tumanurunga menjadi raja, Kasuwiang Salapanga menjadi khawatir karena sang Raja Wanita belum juga memiliki pendamping. Kelak jika raja mangkat, dan belum juga mempunyai keturunan maka Gowa akan kembali menjadi kacau balau.
Pada saat itu datanglah dua pemuda masuk ke Gowa dari arah selatan. Dua pemuda bersaudara dan tidak jelas asal usulnya, namun konon berasal dari Tana Toraja. Yang satu bernama Karaeng Bayo, dan saudaranya bernama Lakipadada. Karaeng Bayo memiliki sebuah kelewang (badik) yang bernama Tanruballanga, dan Lakipadada memiliki sebuah kelewang yang dinamai Sudanga. (konon kedatangan Lakipadada ke Gowa dengan bergantungan di cakar seekor burung garuda).
Paccallayya dan Kasuwiang Salapanga yang mengetahui kedatangan dua pemuda tadi bergegas menemui keduanya dengan maksud mempersuami-isterikan Karaeng Bayo dengan Tumanurunga.

Berkatalah Paccallayya dan Kasuwiang Salapanga, “kami datang mengambil Engkau untuk mempersuami-isterikan Engkau dengan raja kami”.
Karaeng Bayo menjawab, “sedangkan Engkau si empunya negeri menurunkan kami ke dalam lubang tanah kami berdiam diri, apalagi Engkau naikkan kami ke puncak pohon kelapa. Sudah tentu hal itu sangat menggembirakan hati kami”.
Maka bertempat di Tammalate, dilaksanakanlah pernikahan antara Karaeng Bayo dan Karaeng Tumanurunga dengan upacara kebesaran menurut adat istiadat kerajaan Gowa. Seluruh rakyat riuh dalam suka cita, bersyukur kepada Dewata atas berlangsungnya perkawinan itu.
Beberapa waktu setelah itu, antara Karaeng Bayo dan Karaeng Tumanurung, serta Paccallayya dan Kasuwiang Salapanga diucapkan ikrar yang akan selalu diingat oleh rakyat Gowa. Ikrar tersebut berbunyi
Karaeng Bayo Berkata kepada Paccallayya dan Kasuwiang Salapanga :
Bahwasanya Engkau angkat kami menjadi rajamu. Kami bersabda dan Engkau tunduk patu. Kami adalah angin, Engkau adalah daun kayu.
Paccallayya dan Kasuwiang Salapanga menjawab :
Bahwasanya kami telah mengangkat engkau menjadi raja kami, Engkau adalah raja dan kami adalah hamba rakyat tuanku.

Engkau adalah sangkutan tempat bergantung, kami adalah lau (tempat air tuak, terbuat dari kulit labu). Kalau sangkutan tempat bergantung patah dan lau tidak pecah, kami mati.
Kami tidak akan tertikam oleh senjatamu, engkaupun tidak tertikam oleh senjata kami.
Hanya Dewata yang membunuh kami, engkaupun hanya Dewata yang membunuhmu.
Bertitahlah Engkau dan kami tunduk patuh. Kalau kami menjunjung, maka kami tidakmemikul, kalau kami memikul maka kami tidak menjunjung.
Engkau adalah angin, kami adalah daun kayu. Akan tetapihanya daun kayu yang telah menguning sajalah Engkau luluhkan.
Engkau adalah air dan kami adalah batang hanyut. Akan tetapi hanya air pasang yang besar saja yang dapat menghanyutkan.
Walaupun anak kami, walaupun isteri kami, jika kerajaan tidak menyukainya, maka kami pun tidak menyukainya.
Bahwasanya kami mempertuan Engkau, bukan harta benda kami.
Engkau tidak akan mengambil ayam dari kandang ayam kami, engkau tidak akan mengambil terlur ayam dari pekarangan kami, tidak mengambil kelapa kami sebutirpun dan tidak mengambil pinang setandanpun dari kami.

Jika Engkau mengingini barang kepunyaan kami, Engkau membelinya yang patut dibeli, Engkau menggantinya yang patut diganti, Engkau memintanya yang patut diminta, dan kami akan memberikan kepada Engkau, Engkau tidak boleh terus mengambil begitu saja milik kami.
Raja tidak akan memutuskan hal ikhwal di dalam negeri jika gallarang tidak hadir dan gallarang tidak mengambil keputusan tentang sooal perang jika raja tidak hadir.
Lalu Karaeng Bayo dan Karaeng Tumanurunga menerima ikrar bersama tersebut.
Dari pernikahan Karaeng Bayo dan Karaeng Tumanurunga lahir seorang putra dengan kondisi tidak biasa. Dia lahir setelah tiga tahun lamanya di dalam kandungan. Dia dapat berbicara dan berlari sesaat setelah dilahirkan. Ia pun disebut Tau Assala-salang (Orang Kerukut).
Anak itu diberi nama Tumassalangnga Baraya. Diberi nama seperti itu karena memiliki bahu yang tidak rata. Sebelah telinganya memiliki benjolan, dan sebelah lainnya berbentuk lebar tidak normal. Telapak kakinya sama panjang antara depan dan belakang, dan pusarnya seperti bakuk karaeng.

Maka bersabdalah bundanya, “mengapaanakku seorang-orang kerukut karena bahunya miring, telinganya seperti bukit yang melambai-lambai, rambut yang putus di Jawa dapat didengarnya. Kerbau putih mati di Selayar tercium olehnya. Burung merpati yang ada di Bantaeng dapat dilihatnya. Kakinya seperti timbangan, pusarnya bagaikan mta air, tangannya pandai menikam. Siapa yang menyembah kepadanya bertahil-tahil emasnya. Siapa yang menyembah dia akan dimohonkannya berkat keselamatan. Siapa yang menyembah dia akan menjadi rakyatnya”.
Kelak Tumasalanga Baraya juga menjadi Raja Gowa yang ke II, menggantikan ibundanya.

Sumber :
Buku Sejarah Gowa, karya Abd. Razak Daeng Patunru, 1993
Lakipadada dan Tang Mate , tulisan Noertika (Daeng Rusle)

Tidak ada komentar: